hai!
postinganku kali ini family edition. hehe. jadi, aku pengen bercerita tentang adikku.
yang kumaksud disini, adik bungsuku yang masih duduk si bangku TK, menuju SD dalam beberapa bulan kedepan.
ia lahir sewaktu aku kelas dua SMA. kondisi yang mengharuskan aku menuntut ilmu jauh di luar kota, membuatku harus kost. semenjak SMA. praktis aku jarang dirumah. paling banter satu kali tiap minggu kusempatkan pulang. apes-apesnya ya sebulan sekali.
namun kali ini, aku berkesempatan tinggal dirumah dalam waktu lama. salah satu anggota keluarga, sakit, lumayan parah, mengingat ia termasuk dalam golongan pasien bedrest.
karena itulah, sepatutnya, aku tinggal dirumah. apalagi tak ada yang menghalangiku untuk tetap tinggal di rumah keduaku, di Purwokerto sana. yahh, beginilah kalau jadi mahasiswa semester banyak yang tugas akhirnya tak juga selesai.
sebulan dirumah, semakin membantuku memahami sifat, kebiasaan dan karakter keluarga dirumah. yang secara kasat mata paling gampang di titeni itu kebiasaan adik bungsuku. meski nantinya, aku menyadari bahwa sebetulnya justru dia yang paling susah dipahami.
ini soal adikku yang doyan banget berjajan ria.
sebagaimana anak umur 7 tahun lainnya, masa itu merupakan masa bermain. yang juga meliputi masa 'jajan sebanyak-banyaknya'.
setiap kali berangkat sekolah, ia mendapat uang saku Rp 1000. pulangnya, uang itu telah raib. berganti jajanan seperti batagor, atau mainan berharga murah. selalu.
ia pulang pukul 10.00, berganti pakaian sebelum melesat hilang bersama sekawanannya.
nah, biasanya pukul 11.00, ia akan pulang, memasuki rumah dengan berlari, napas terengah-engah, dan meminta uang untuk kembali jajan.
jika sudah seperti itu, aku akan menasehatinya habis-habisan tentang buruknya jajan, ttg kebersihan jajan, dan bla bla bla. yang aku yakin, tak didengarnya dengan baik. sebab ia, bersikap tak peduli, lalu mutung karna gak kukasih uang.
nah, itu kalo aku ada dirumah. kalo aku gak ada? mbak yang dirumah, pasti bakal ngasih karena gak tega, dan rasa sayangnya dia ke adikku. huhu, rasa sayang yang sayangnya, salah penempatan.
huh, aku cuma membayangkan
barusan, ia berpolah sperti biasanya. intriknya kali ini, dia mau menukar jajan yang sudah dibelinya, dengan uang Rp 500. meski sebenarnya gak tega, tetap kutolak permintaannya.
akhirnya dia ke ruang depan, dimana ada Bude-Budeku sdg berbincang. entah apa yang dia katakan, dia pergi bermain, melewatiku sambil tersenyum simpul.
lalu aku mengeluhkan hobi jajannya itu. kata mbak yang ada dirumahku, "dia kan suka beli jajan, trus dibagi-bagiin ke temen-temennya, mbak"
waduhh, aku jadi bingung. gimana cara bikin dia jera jajan, tanpa harus bikin dia jadi pelit?
adek jajan
bad-mood
selalu seperti ini.
beberapa saat setelah membaca sebuah tulisan, maka hasrat menulisku meluap-luap.
teringat akan blog-ku yang sudah mati suri.
teringat pada list-list menulisku yang belum terpenuhi.
lalu, seperti biasa, aku akan memutar musik pengantar menulis, dan mulai membuka notepad.
dan musik jazz akan mengalun pelan.
seirama dengan ketukan jariku di keyboard.
tapi jangan salah, setelah beberapa tulisan kuhasilkan, biasanya akan muncul rasa malas.
dan merasa sudah menunaikan tugas-tugasku.
maka aku tak ubahnya seperti kerupuk. semangat yang kupunya hanyalah semangat kerupuk.
disiram malas, langsung mimpes.
kemudian rasa bersalah akan timbul, timbul tenggelam.
tenggelam oleh setumpuk kegiatan lain.
kadang, kesibukan lain membuatku memaafkan diriku sendiri yang malas dan lalai.
bagiku, tak ada bagusnya mengerjakan sesuatu yang dipaksakan.
dan jadilah, list-listku masih banyak yang belum kucoret, atau kutandai centang.
begitulah susahnya, kalau terlalu menggantungkan diri pada mood.
over the hedge!
(masih) tentang hujan
diluar hujan.
dan kutantang guntur dengan teriak.
deras hujan berganti dengan rintik. bisa kulihat lewat jendela yang terbuka penuh disamping kananku. mereka seperti berlomba ingin turun dari langit. jatuh dari langit, hanya untuk menuju bumi. dan bergabung dengan sesamanya menuju sungai, selokan atau bahkan hanya menjadi genangan di suatu tempat. rintik hujan, bagiku merupakan kasta tertinggi dari pembagian kelas air yang kususun secara asal. ya, hujan tentu lebih indah dari air comberan, air bekas cucian, apalagi air hasil pembuangan manusia. barangkali karena air hujan, merupakan ibu dari segala air di muka bumi ini. ia jatuh dari kerajaan langit, dengan gerakan yang indah pula, dan selalu dijadikan tema menarik dari tulisan-tulisan penyair, ungkapan cinta pujangga, bahkan syair lagu para seniman.
tapi sisa guntur masih bergaung. kedengarannya seperti prajurit muda yang masih amatir. hanya menggertak. ditinggal para ksatria, yang telah lebih dulu menunaikan tugasnya, mengingatkan manusia bahwa ada hukum yang lebih kekal dan adil. aku menyebutnya Hukum Langit. tapi manusia, lambat laun belajar menjadi kuat. hingga sisa-sisa guntur ini tak menganggunya. harus para ksatria guntur yang mengingatkan. itupun kadang hanya ditanggapi dengan angin lalu.
dan awan masih kelabu. inilah saat-saat awan terlihat sangat buruk, seperti seonggok bubur. bayangkan saja bubur berwarna kelabu. perpaduan antara bubur yang sama sekali tak berbentuk, dan warna kelabu yang muram. ironis. tapi tunggulah beberapa saat, awan akan kembali memperlihatkan beraneka bentuk raganya. kuda yang sedang berlarian, payung, bunga, bayi, tanda panah. ahh, banyak sekali. tak bisa aku sebutkan semuanya. sering aku mencoba memindahkan bentuknya kedalam mata kamera, api tentu saja tidak seelok nyatanya. dan coba lihat, ketika menjelang tenggelamnya sang bola emas, akan terlihat sepercik sinar-sinar yang menerobos awan sia-sia. banyak yang memuji sang bola emas karna elok sinarnya. tapi bayangkan sinar emas itu terpapar begitu saja. tak ada keindahan disana. maka berterimakasihlah pada sang awan. pada permainan petak umpet keduanya, yang menghiasi kanvas para manusia lukis.
kali ini, kilat tak muncul. entahlah, barangkali lelah merekam ekspresi manusia saat tiba hujan. barangkali tak jua muncul ekspresi yang ia harapkan. atau ia tak perlu lagi merekamnya, sebab telah lihai menebak manusia.
diluar tinggal rintik kecil.
dan kubiarkan pertunjukkan hujan kali ini membungkam mulutku.





