tubuh disebelahku masih membeku,
meruapkan bau keringat yang kini kuhafal.
kuputar tubuhku kekiri agar bisa memandangnya dengan jelas.
kutopang kepalaku dengan tangan kiri,
kujaga agar tak membangunkannya.
hanya ada suara detak jantungku, dan detaknya yang teratur, ia masih berada di awang-awang.
semalam ia tidur larut, maka kubiarkan ia bangun siang, selalu seperti tiap harinya.
siapakah tubuh disebelahku ini?
aku memang hafal lekuk mukanya, tubuhnya,
tapi aku merasa tak pernah cukup untuk mengenalnya.
sambil tetap memandang matanya yang terpejam,
aku mengingat-ingat kembali saat-saat pertemuan pertama kita.
saat yang begitu aku tunggu, setelah hampir empat purnama kita selalu bertukar pesan,
tanpa pernah bertatap muka.
aku selalu suka menebak-nebak,
seperti kali itu,
aku membayangkan bermacam wajah yang mungkin menjadi wajahmu,
hidungmu, matamu, rambutmu,
seperti apakah kamu?
dan aku tau,
aku telah jatuh cinta sejak kali pertama kita berjumpa.
apakah kau masih ingat saat-saat itu?
-nanti akan kutanyakan padamu-
bukankah kita saling bertukar cinta lewat mata, sayang?
ah, kau belum lagi punya nama,
aku masih berdebat dengannya soal namamu itu.
memang memilih selalu perkara sulit ya?
hmm, baiklah,
kubiarkan kau terlelap,
bermimpilah banyak-banyak, sayang.
kelak akan ku ingatkan kau akan mimpimu,
dan kupastikan kau untuk mengejarnya.
sampai jumpa lagi.
dongeng sebelum bangun
sepasang bola hitam
ketika kita berbincang, sesungguhnya aku selalu merasa enggan.
karena aku tau, ini akan menguras energiku.
selalu ketika kau mulai berkata-kata, satu titik yang menjadi area perhatianku adalah matamu.
dan ya, matamu menguras energiku.
ia melonjak ketika nadamu meninggi,
ia menerawang ketika kau mengambil jeda cukup banyak diantara kalimat-kalimat yang kau lontarkan,
ia berkaca ketika intonasimu berubah sendu,
ia memberiku banyak kalimat ketika tak ada yang bisa kau keluarkan dari pita suaramu.
meki begitu, aku sungguh benci melihatnya beranak sungai.
kita memang selalu hanya berbincang,
kurang tidak, lebih apalagi.
dan matamu yang hitam, selalu ikut bercerita.
kau bercerita tentang apa saja.
tentu saja dengan perkecualian: tentang dirimu sendiri.
ruang yang kau kunci, lalu kau telan kuncinya.
hilang sudah akses menuju kesana.
aku pernah mengusulkan pada diriku sendiri,
agar aku tak lelah, tak usah pandangi matanya saja.
ha, tapi mana bisa?
cuma sepasang mata itu yang bisa kupandangi dari dirinya.
sebagian besar tubuhnya ia sembunyikan dibalik pakaian-pakaiannya yang panjang.
tubuh yang tak pernah ia perlihatkan pada lawan jenisnya.
pun padaku,
meski kami terlahir dari jenis yang sama.
kau tau,
perempuanku -betapa ingin aku memanggilmu begitu.
tersesat
**untuk seorang yang sedang kebingungan. semoga tidak tersesat.
pfiuhh..
didepanku terpapar pepohonan berbagai macam, kurus dan gemuk berbaur. kabut mulai turun perlahan. terasa dan terlihat jelas, tapi tak tersentuh.
nafasku mulai satu-satu, jalanan semakin menanjak. aku semakin meninggalkan sekumpulan hijau, untuk kembali menuju sekelompok hijau. sial, tubuh mudaku seharusnya mampu melewati jalan ini dengan mudah. tak ada pilihan jalan lain yang memutar. aku harus beranjak dan mendaki.
saat ini entah siang entah malam entah pagi. kabut memang membuat semuanya menjadi abu-abu. tak jelas. ini hari entah keberapa. jelas aku tersesat.
kelelahan, kakiku memaksa aku menghentikan langkah.
meminum air yang kuambil kemarin lusa dari sungai kecil dan mengambil nafas.
ahhh...
padahal ada matahari,
ada kabut, bintang, bulan dan musim.
adakah aku meminta terlalu banyak?
home
apa yang menarik dari sebuah kepulangan?
aku mencoba mencari jawabnya pada Hari Raya Lebaran -yang sangat identik dengan momentum kumpul keluarga- kali ini.
lantas aku mencoba merunut satu-satu.
mulai dari kepulanganku sendiri,
kepulangan Omku dari Bandung,
lalu,
kepulangan Ibuku ke keluarga besarnya ke Kabupaten Banjarnegara.
ha, kepulanganku!
selama ini -sejak aku duduk di bangku SMA- aku menghabiskan sebagian besar waktu di kota Purwokerto, menyewa sebuah kamar disana untuk beberapa bulan atau tahun.
dulu, jadwalku pulang kerumah selalu rutin. seminggu sekali. salah satu alasan yang paling masuk akal, adalah karena uang sakuku yang dijatah per minggu.
tapi sejak aku mulai tercatat sebagai mahasiswa, jadwal pulangku semakin tak teratur. sak karepe dewe', pokoknya mah. pengen pulang ya pulang, ndak pengen ya ngendon aja di kos.
dan semakin berlipat tahunku sebagai mahasiswa, ketidakteraturan jadwal pulangku semakin menjadi. dari sebulan dua kali, bisa sampai dua bulan sekali. tidak ada tendensi apa-apa. kalau aku tidak pulang, itu tandanya, ada yang belum aku selesaikan di Purwokerto dan tidak bisa aku tinggalkan.
biasanya, setiap Lebaran, aku selalu pulang minimal H-4. pada bulan Ramadhan, aku juga selalu menyempatkan untuk lebih sering pulang kerumah -berbuka dan sahur bersama keluarga-. sejak aku tinggal di Purwokerto, sejak 7 tahun yang lalu, jadwal pulangku selalu begitu. kali ini, aku berencana untuk pulang setelah shalat Ied. aku ingin merealisasikan impianku yang tidak pernah kesampaian sejak bertahun lalu: menikmati 10 hari terakhir bulan Ramadhan, sendiri. tapi nyatanya, tahun ini pun impian itu masih harus mengambang, aku memilih pulang. memenuhi keinginan Ibu ;)
***
dari empat saudara kandung Ibu, yang paling jauh adalah Omku. ia tinggal di Bandung. selain momen-momen tertentu, kami hanya bertemu dengan sekat handphone. Lebaran kali ini, kami bertemu pada H+2. kepulangan Omku, selalu membawa kesan seperti ini: ceria, bahagia dan terasa ringan. tidak ada lagi yang berbeda, kecuali bahwa tahun ini, ia kelelahan karena kendaraan pribadi menjadi lebih banyak tersebar di jalan.
***
pada H+3, Ibuku sekeluarga dan Omku sekeluarga, berangkat. kemana? pertama ke Jogja, kemudian ke Magelang dan menginap disana. esoknya, mampir ke beberapa rumah di Banjarnegara, lalu Banyumas, dengan garis finish di rumahku, Kemranjen tercinta.
kami serombongan, tidak ada yang paham peta Jogja. maka, muter-muterlah kami disana, tetap nyasar meski sudah merepotkan banyak orang, hanya untuk menemukan Jalan Malioboro. hahaha. sampai disana, hujan turun, parkiran penuh. jadilah kami hanya menikmati Malioboro dari balik kaca mobil.
karena macet dan hujan deras, kami sampai di Magelang ketika petang. untuk kedua kalinya kami nyasar. karena memang, sudah lama kami tidak kesana, kerumah Bude. ditambah, malam yang sudah mulai turun. biasanya, putra sulungnya yang rajin menjemput di suatu titik. tapi kali ini, ia baru saja sampai kembali di Jakarta. aku menghubunginya, Omku menghubungi ayahnya. riweuh dah. ketika akhirnya kami sampai dirumahnya, ternyata putra bungsunya justru sedang menjemput kami di alun-alun. walah, slisiban.
perjalanan yang melelahkan, sepadan dengan sambutan dan hidangan yang kami terima. Bude dan keluarga terlihat sangat senang. yang lebih menyegarkan, ditengahtengah berlimpah daging, Bude menyuguhkan pecel dan buah anggur. yeah! meski anggur tak sefavorit apel, tapi ia tetap kusenangi karena tak mampu kubeli sendiri. hehehe.
***
lalu apa kesimpulannya?
selain untuk melepas rindu, barangkali kepulangan bisa menjadi 'charger' bagi semangat di diri. terutama bagiku, untuk menggeluti kembali sesuatu yang telah lama kutinggal. yihaa!
juga seperti kini, banyak cerita yang sedang kami kenang selama berkumpul bersama kerabat.
akhirnya, sebuah kepulangan, tidak hanya sekedar bertemu kembali secara fisik. tapi juga, bertemu dengan bagian-bagian yang membentuk diri kita menjadi seperti sekarang.
menurutmu, apa yang menarik dari sebuah kepulangan, kawan?
selamat merayakan hari lebaran, bagi yang merayakan.
saya mohon maaf...





