detak ini mewakili pada setiap detik
yang melambat, naik dengan cepat juga berlarian tanpa jeda
kupilih dinding dan lantai untuk menemani
kutengok ke dalam,
tubuhku layu.
galau
kosong-kosong
jika kebingungan menjadi satu dari fase yang harus dilewati setiap manusia, untuk kemudian menemukan dirinya sendiri,
maka apa yang akan terjadi pada manusia yang kebingungan dan pada saat bersamaan dikejar-kejar oleh banyak tuntutan?
tidak mampu melewati fasenya dengan baik, dan akhirnya menjadi pribadi yang kosong: banyak bergerak namun sebenarnya tidak melakukan gerakan apapun.
bagaimana bisa membangun sebuah rumah dengan pribadi yang kosong?
merengek
terpaksa kupilih tombol merah di ujung kanan.
tak sanggup berlama-lama melihat senyumnya.
lumpuh aku karena rindu.
ternyata aku tidak bisa menulis
Pikiran itu muncul setelah dua tulisanku kacau balau. Iya, kacau balau dalam arti yang sebenarnya. Sudut pandang yang tidak semestinya, alur yang tidak mengalir. Yang paling parah, melenceng dari tujuan tulisan itu sendiri. Diksi apalagi yang pantas, untuk tulisan yang mengalami editing dari segi sudut pandang?
Padahal, kupikir, itu bukan tulisan yang susah-susah amat. Yah, fakta itu membuat kepercayaan diriku menurun. Kemampuan menulisku turun. Mungkin tidak drastis, tapi aku tau aku pernah menulis lebih baik dari ini. Melewati proses editing yang berulang kali, dan melampaui banyak batas deadline. Disaat aku sangat membutuhkan tulisan ini untuk aktualisasi diri.
Aku khawatir tulisanku diterima karena kasihan, bukan karena memang layak.
Poor me..
Tapi aku ingin maju, jadi aku terima proses ini. Biar aku suntuk, aku mau tulisan ini selesai. Layak tampil, setidaknya. Satu simpul yang terlihat adalah, sepertinya aku meremehkan pekerjaan ini.
See?
(karena dipandang)Sepele lalu menjadi rumit.





