selintas kulihat langit,
segera aku tahu kau akan datang.
kumatikan segala bunyi,
lalu aku mendengarkan suaramu.
kubawa tubuhku menyesap harumnya tanah basah,
kuajak kulitku merasai dinginnya hujan,
kuhirup udara yang semakin dingin,
kujejakkan kakiku untuk mencintai bumi,
pejamkan mata lalu kudengar suara hujan,
suara yang hanya bisa kau dengar bila kau telah mampu menikmati hujan,
adakah itu suaramu, hujan?
yang kali ini lirih dan lembut.
rasanya baru kali ini aku mendengarmu menyanyikannya dengan begitu pelan.
semoga kau tidak sedang bersedih.
ah, apa pula itu?
ada suara yang asing dan nyaring,
hampir tak pernah lagi kudengar,
ah, itu suara siul burung!
kukirim doa untuknya: semoga ia diberi umur panjang.
kunikmati setiap tetes, bau, rasa, semilir hujan
dan kubiarkan hujan menerima diriku secara penuh dan utuh,
sekotak pagi ini membuat aku merasai dan tak bisa menolak untuk mencintai-Mu,
dan mencintaimu yang selalu datang membawa bahagia, hujan.
"...dan aku akan hilang, ku kan jadi hujan,
namun takkan lama, ku kan jadi awan..."
***
saat aku begitu menggilai hujan.
sekotak pagi penuh denganmu
sebab setelah katakata, tindakan adalah konsekuensinya*
sepagi ini, tak sengaja aku membaca dua tulisan temanku dengan tema yang bersinggungan: perang.
dan sejak sepertiga pagi tadi, aku memutar musik milik Saharadja: grup musik jazz-instrumental yang berasal dari Bali. tidak mendapat tempat di Indonesia, namun disambut hangat di berbagai negara di dunia. salah satu karyanya yang paling kusukai, berjudul Bali Smile. lagu itu dimaksudkan untuk mengenang pemboman yang dilakukan terhadap Bali. di akhir lagu, terdengar suara anak-anak kecil melantunkan beberapa kata, yang terakhir berbunyi: bring back Bali's smile, bring back Bali's smile. dalam album Limited Editionnya, Saharadja menyanyikan ulang lagu yang terkenal sebagai ikon perdamaian; Imagine.
lalu siang ini, aku berbincang dengan temanku menggunakan fasilitas short message service, awalnya kami flashback mengenang diri kami di masa lalu, dengan karakter yang –kami memilih menyebutnya sebagai- lucu. hingga kemudian, pembicaraan mengalir menjadi tema hubungan sesama manusia. temanku menulis kalimat seperti ini:
jelas, menyakiti merupakan unsur terpenting yang membangun sebuah perang, selain kalah dan menang.
lalu, sebelum kita beranjak pada isu yang lebih global dan sedang tren belakangan ini; sudahkah kita berlaku damai pada sesama kita di lingkungan sekitar kita, atau bahkan pada diri kita sendiri?
sebab aku percaya, perang yang terjadi di dunia pada dasarnya bersumber pada perang didalam diri sendiri.
sudah banyak yang membahas topic perang besar yang tengah berlangsung di dunia. bagiku, adalah sama pentingnya untuk berlaku damai pada diri dan sekitar kita, sebagai usaha konsistensi dari apa yang kita koar-koarkan selama ini: hentikan perang.
*dari seorang teman,
merci pour m'inspirer
berhentilah.
tiba-tiba saja aku merasa sesak.
upacara bangun tidur yang buruk.
aku meyakini bahwa limabelas menit setelah bangun tidur adalah masa-masa emas dalam hari itu. menitmenit itulah yang akan membuatmu melewati hari dengan indah atau sebaliknya.
buruknya, menitmenit itu hari ini kulewati dengan ketakutan.
aha, lampu merah!
****
percakapan semalam masih sangat membekas.
pertanyaan pertanyaan yang memburu, mendesak meminta jawaban. berreinkarnasi menjadi tokoh-tokoh yang mengejarku dalam mimpi semalam. itu sebabnya aku terbangun dengan panik, bingung dan terus bertanya.
arrrrgggghhhhhhh.
mungkin anjuran mematikan handphone sebelum tidur adalah benar adanya. sehingga kita tidak perlu berbincang dengan mata mengantuk dan hati merutuk.
ketakutan-ketakutanku yang tidak beralasan ini, kuredam dengan mendengarkan lagu dari berbagai macam genre yang tersedia di radio.
barangkali bisa kutemukan inspirasi dari sana.
dari sebuah lagu, aku mengulang-ulang sebuah kata, mirip mantra.
berhentilah mencari, karna kau tlah menemukannya.
oho, lampu hijau!
****
otakku langsung melesat menuju berbagai katakata dari teman dekatku.
katanya: berhentilah bertanya, sebab kau telah menemukan jawabnya. kau hanya enggan mengakuinya.
aku selalu mendengarkan orang lain.
aku lupa, kapan terakhir kali aku mendengarkan katakataku sendiri.
ah, ternyata ini saatnya lampu kuning yang menyala.
hati-hati, sayang.
****
170510
dengan sayang, cinta, hormat dan setumpuk maaf.
matanya terpejam, tubuhnya agak miring ke samping. namun, ia berbicara, terus berbicara. tentang apa saja. yang hanya ditanggapi dengan anggukan dan perkataan mengiyakan oleh si penunggu.
terbaring ia di ranjang kecil. sebuah selang terjulur keluar dari balik selimut yang menutupi tubuhnya, membawa aliran air, menuju sebuah ember dibawahnya. bibirnya bergerak-gerak. bercerita tentang mimpi-mimpinya. meski sungguh, tak mungkin baginya. ia yang sekarang ini. ia bahkan tak berkuasa atas dirinya sendiri.
perang sedang berlangsung. dan ia kalah. maka, berbagai jenis obat, pil, tablet, suntikan, memenuhi tubuhnya, menopang hidupnya.
meski begitu, matanya tetap bersinar. menunjukkan kekuatan dirinya yang dibangun sejak muda, dimana ia selalu bekerja keras, kuat dan pantang mencoba menyerah. ironis, kekalahannya kali ini disebabkan keras hidup yang dialaminya sewaktu muda. mudanya bekerja keras, kini di waktu seharusnya ia berdamai dengan sejuk udara, kekuatan hatinya pun diuji.
sayangnya, tak ada yang bisa mengasihaninya. ia selalu menjadi kuat. selalu menjadi kuat. orang hanya bisa mengaguminya, justru ketika ia sangat pantas dikasihani. ketika tubuhnya tak lagi bisa sejalan dengan inginnya, maka ia memancarkan kekuatannya lewat bicaranya. kekuatan terakhir yang ia pancarkan, adalah lewat sinar matanya.
maka, ketika sinar matanya yang terakhir pergi, aku memaksa diriku untuk menjadi kuat. seperti yang selalu diajarkannya. sebulan terakhir bersamanya, tak banyak yang aku lakukan untuk memenuhi segala inginnya. lalu, janji-janjiku dulu untuk sering mengunjunginya, datang bertubi-tubi. menancapkan rasa-rasa bersalah.
di ujung sore, di awal bulan,
aku mengiringimu, dengan sayang, cinta, hormat dan setumpuk maaf.
24032010
-saat kangen menyergap: remebering my lovely Grandma-





