menjaga hati sahabatku,
mencuri waktu untuk bertemu
rasakan perih sahabatku,
membuang waktu untuk cemburu
terbesit barang sedetik kita jauh
hilanglah kita jatuh
terbesit barang sedetik kita jatuh
kau tersungkur, tersungkur, dan jauh
lalu ku tersungkur, tersungkur, dan jauh, dan jatuh
habiskan hati sahabatku,
mencari ragu untuk dibunuh
menangkap nyali sahabatku,
mengisi jantung seakan candu
petik sakit, percayai, sangka baik, takkan sulit
beri, trima, senyum, hina, sakit, rasa, tawa sahabat
Frau - Salahku, Sahabatku
ada apa dengan kita?
sekotak pagi penuh denganmu
selintas kulihat langit,
segera aku tahu kau akan datang.
kumatikan segala bunyi,
lalu aku mendengarkan suaramu.
kubawa tubuhku menyesap harumnya tanah basah,
kuajak kulitku merasai dinginnya hujan,
kuhirup udara yang semakin dingin,
kujejakkan kakiku untuk mencintai bumi,
pejamkan mata lalu kudengar suara hujan,
suara yang hanya bisa kau dengar bila kau telah mampu menikmati hujan,
adakah itu suaramu, hujan?
yang kali ini lirih dan lembut.
rasanya baru kali ini aku mendengarmu menyanyikannya dengan begitu pelan.
semoga kau tidak sedang bersedih.
ah, apa pula itu?
ada suara yang asing dan nyaring,
hampir tak pernah lagi kudengar,
ah, itu suara siul burung!
kukirim doa untuknya: semoga ia diberi umur panjang.
kunikmati setiap tetes, bau, rasa, semilir hujan
dan kubiarkan hujan menerima diriku secara penuh dan utuh,
sekotak pagi ini membuat aku merasai dan tak bisa menolak untuk mencintai-Mu,
dan mencintaimu yang selalu datang membawa bahagia, hujan.
"...dan aku akan hilang, ku kan jadi hujan,
namun takkan lama, ku kan jadi awan..."
***
saat aku begitu menggilai hujan.
sebab setelah katakata, tindakan adalah konsekuensinya*
sepagi ini, tak sengaja aku membaca dua tulisan temanku dengan tema yang bersinggungan: perang.
dan sejak sepertiga pagi tadi, aku memutar musik milik Saharadja: grup musik jazz-instrumental yang berasal dari Bali. tidak mendapat tempat di Indonesia, namun disambut hangat di berbagai negara di dunia. salah satu karyanya yang paling kusukai, berjudul Bali Smile. lagu itu dimaksudkan untuk mengenang pemboman yang dilakukan terhadap Bali. di akhir lagu, terdengar suara anak-anak kecil melantunkan beberapa kata, yang terakhir berbunyi: bring back Bali's smile, bring back Bali's smile. dalam album Limited Editionnya, Saharadja menyanyikan ulang lagu yang terkenal sebagai ikon perdamaian; Imagine.
lalu siang ini, aku berbincang dengan temanku menggunakan fasilitas short message service, awalnya kami flashback mengenang diri kami di masa lalu, dengan karakter yang –kami memilih menyebutnya sebagai- lucu. hingga kemudian, pembicaraan mengalir menjadi tema hubungan sesama manusia. temanku menulis kalimat seperti ini:
jelas, menyakiti merupakan unsur terpenting yang membangun sebuah perang, selain kalah dan menang.
lalu, sebelum kita beranjak pada isu yang lebih global dan sedang tren belakangan ini; sudahkah kita berlaku damai pada sesama kita di lingkungan sekitar kita, atau bahkan pada diri kita sendiri?
sebab aku percaya, perang yang terjadi di dunia pada dasarnya bersumber pada perang didalam diri sendiri.
sudah banyak yang membahas topic perang besar yang tengah berlangsung di dunia. bagiku, adalah sama pentingnya untuk berlaku damai pada diri dan sekitar kita, sebagai usaha konsistensi dari apa yang kita koar-koarkan selama ini: hentikan perang.
*dari seorang teman,
merci pour m'inspirer
berhentilah.
tiba-tiba saja aku merasa sesak.
upacara bangun tidur yang buruk.
aku meyakini bahwa limabelas menit setelah bangun tidur adalah masa-masa emas dalam hari itu. menitmenit itulah yang akan membuatmu melewati hari dengan indah atau sebaliknya.
buruknya, menitmenit itu hari ini kulewati dengan ketakutan.
aha, lampu merah!
****
percakapan semalam masih sangat membekas.
pertanyaan pertanyaan yang memburu, mendesak meminta jawaban. berreinkarnasi menjadi tokoh-tokoh yang mengejarku dalam mimpi semalam. itu sebabnya aku terbangun dengan panik, bingung dan terus bertanya.
arrrrgggghhhhhhh.
mungkin anjuran mematikan handphone sebelum tidur adalah benar adanya. sehingga kita tidak perlu berbincang dengan mata mengantuk dan hati merutuk.
ketakutan-ketakutanku yang tidak beralasan ini, kuredam dengan mendengarkan lagu dari berbagai macam genre yang tersedia di radio.
barangkali bisa kutemukan inspirasi dari sana.
dari sebuah lagu, aku mengulang-ulang sebuah kata, mirip mantra.
berhentilah mencari, karna kau tlah menemukannya.
oho, lampu hijau!
****
otakku langsung melesat menuju berbagai katakata dari teman dekatku.
katanya: berhentilah bertanya, sebab kau telah menemukan jawabnya. kau hanya enggan mengakuinya.
aku selalu mendengarkan orang lain.
aku lupa, kapan terakhir kali aku mendengarkan katakataku sendiri.
ah, ternyata ini saatnya lampu kuning yang menyala.
hati-hati, sayang.
****
170510





