Diberdayakan oleh Blogger.
Foto saya
baca dan nikmati perjalanan kali ini.

Followers

Recent Posts

Download

Blogger Tricks

Blogger Themes

RSS

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

cokelatpanas

coklat panas meleleh di mulut,
lumer, cair, menyisa pahit di ujung lidah

lima senti didepanku, terduduk sebuah wajah
samar kabut mengaburkan air mukanya

"coklatnya pahit" kataku.
ia mengulurkan satu gelas lagi.
lagi, kucicip isinya.

"coklatnya pahit" kataku, lagi.
kali ini ia mengulurkan sebuah kertas.
coklat memang pahit, tulisnya.
tapi ia menenangkan, lanjutnya setelah jeda spasi.

aku diam.
ia diam.
kami diam.

diam...
diam, diam...
diam, diam, diam...
diam, diam, diam, diam, diam...

hening itu menusuk.

lalu ia merentangkan tangan.
ia tahu aku lelah.
tapi ia juga sangat tahu, aku belum lagi mau melepas baju besi.

bahkan untuk sekedar menerima peluknya.

aku beringsut, mulai beranjak dari duduk.
ia melakukan gerakan yang persis sama.
berdiri, berbalik badan kekanan, ia kekiri, lalu kami saling memunggungi.

kutinggalkan lemari dengan cermin besar didepannya.

ditanganku tergenggam kertas yang kuremas,
tertulis didalamnya;
sudah waktunya bangun.
jangan mati dalam tidur.


*hot chocolate for two, please.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

membaca jejakmu

jejakmu semalam masih berserak.
aku tidak paham, kenapa kau harus selalu berjejak.
setelah menghirup udara luar, baru kusadari bau tubuhmu memenuhi semesta kecilku.

kau berjingkat, berjinjit dan berhati-hati.
tapi kau lupa menutup mulutmu.
udara bicara dan jejakmu terbaca,
aku mengeja.

jejakmu selalu diantara merah, ungu dan hitam.
hey, warna-warna apa itu?
kau tinggalkan mereka, jejak-jejakmu itu.
menempel di sofa, tempat tidur, bus yang kau tumpangi,
lalu melayanglayang ke dunia-dunia yang kau singgahi,
menyapa orang-orang yang bertemu muka.

dan hey, jejakmu ada dimana-mana!
serupa engkau, ia pun menjelajah,
menebar salam.

madu atau racun?

jejakmu,
jejak mereka,
kepulan asap itu,
menyeruak di antara bau manis cinta,
menyesakkan dada.

pada selasa, di duapuluhtiga.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

kepada: temanku yang baik

kalau aku tidak salah menghitung, ini sudah hitungan ke sembilan sejak kau mencoba memaksa masuk. hitungan itu dalam skala tahun. aku tidak pernah memberikan kunci pintuku, untuk alasan apapun dan sesementara apapun. barangkali justru itu yang membuatmu selalu mencoba.

jadi begini, kuluruskan saja. memang dulu aku membencimu, dan sangat membencimu. tapi pelan-pelan kuubah itu menjadi sesuatu yang lebih netral. kukatakan, aku tidak membencimu. jadi berhentilah meminta maaf untuk entah apa itu.

aku, dengan segala hormat, meminta maaf, atas kesalahan apapun yang pernah kulakukan padamu. aku minta maaf.
sudah jelas?

kini, aku, dengan segala harap, memohon mu untuk tidak lagi menggangguku dengan cara apapun. aku pikir kau bisa mengerti. kalau belum jelas juga, harus kukatakan, kalau aku sangat terganggu dengan terror-terormu itu.

berhentilah, ada batas kau mencoba, ada batas kau harus berhenti.

aku tidak tau apa kau bisa membaca tulisanku. tapi, mengingat daya lacakmu yang –harus kubilang apa?-, mungkin saja kau bisa membacanya.

terimakasih atas pengertianmu.
hanie maria.

* tulisan ini –meminjam istilah melyn- kumuntahkan hanya agar tak lagi tinggal, terendap dan membusuk di kepala.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

si ompong yang keren

Belajar memang dari mana saja dan dari siapa saja. Kali ini, aku belajar dari adik kecilku, seseorang yang selama ini aku cekoki bermacam-macam hal.

Aku sudah pernah bercerita tentang adik bungsuku?
Baiklah, kuceritakan lagi ya. Hehehe.
Hari ini dia berusia 7 tahun 2 bulan 4 hari. Dia dilahirkan ketika aku berusia 17 tahun. Kebayang kan, jauhnya? Sekolah yang dimasukinya kini, membuatnya bersiap setiap jam 06.45 pagi, dan sampai dirumah jam 14.00. Untuk ukuran anak berumur 7 tahun, dia termasuk jangkung, kurus. Makin mantaf dengan gigi depan yang ompong dua duanya.

Kalau sudah bercerita, orang yang mendengarkan, gak boleh nyambi ngapa-ngapain, lalu dia akan bercerita dengan sangat antusias, disertai tangan yang bergerak-gerak, mata berbinar dan suara keras [kok kayak nulis deksripsi diriku sendiri, sih?].

Dan kemarin, dia bercerita tentang apa yang dia alami di sekolahnya. Begini katanya, si ustadz [panggilan untuk gurunya di sekolah] bertanya kepada setiap anak, “Ayo sebutkan cita-cita kalian..”. Tiba pada gilirannya, si ustadz pun bertanya, “Hawwin kalau udah gede mau jadi apa?”. Dan dia pun menjawab dengan bangga, “Sopir truk!”.

Sopir truk itu cita-citanya dari duluu banget, dari pertama dia tau benda bernama truk. Agaknya sikecil Hawwin terinspirasi punya cita-cita nyleneh dari kakaknya yang kini sedang puber remaja; cita-citanya dulu ingin jadi pintu. Ahahaaa.

Aku senang adikku sudah belajar berani mengakui dirinya [cita-citanya], didepan teman-temannya. Apalagi itu bukan profesi yang lazim diidam-idamkan. Aihh, kerennya adikku!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS